Nabire – Cinta diantara Dua Bendera

Category:

Description

 

 

Judul Buku: Nabire – Cinta diantara Dua Bendera

Penulis: Yakobus Dumupa

Tebal Buku: 372 hlmn

Ukuran Buku : 13 x 20

Harga Buku: Rp 350.000

ISBN : Dalam Proses Pengurusan

Sinopsis:

Buku NABIRE: Cinta di Antara Dua Bendera adalah novel berlatar di Nabire, kota kecil di tepi Teluk Saireri, Tanah Papua. Novel ini mengisahkan cinta mustahil antara dua manusia dari dunia yang bertentangan—sebuah kisah yang tumbuh di antara akar adat, tuntutan negara, dan keyakinan iman yang tak mau mengalah.

Melanus, putra Dogiyai dari suku Mee, adalah aktivis muda yang pulang ke Nabire setelah bertahun-tahun merantau dan berkuliah di Yogyakarta. Ia membawa ilmu dan bara perjuangan bagi tanah dan orang-orangnya, diwarisi dari kakeknya, Aweepode, yang mengajarkan bahwa yang merampas tanah bukan tombak melainkan tanda tangan. Ayula, inspektur polisi wanita muda dari Jakarta, dibesarkan dalam keluarga perwira dengan kesetiaan penuh pada seragam dan negara, yang perlahan belajar melihat manusia di balik kata “rawan”. Keduanya pertama kali bertemu di dua sisi barisan yang bermusuhan, ketika sebuah demonstrasi memanas di jalanan Nabire—namun di sanalah mata mereka saling bertemu.

Dari pertemuan yang mustahil itu tumbuh cinta yang lebih mustahil lagi: cinta yang hanya bisa hidup di celah-celah, di bawah bayang dua bendera, dua agama, dan dua institusi yang sama-sama menuntut kesetiaan yang utuh dan tak terbagi. Melalui pertemuan-pertemuan diam-diam yang dicuri dari dunia yang tidak mengizinkan hubungan mereka, keduanya belajar saling mengenal sebagai manusia, bukan sebagai lawan.

Namun ketika hubungan itu diketahui, tekanan datang dari segala arah. Dari Dogiyai, adat menolak melalui pertemuan para tetua; dari Jakarta, keluarga Ayula menuntut melalui perjodohan. Melanus dituduh pengkhianat oleh kawan seperjuangannya sendiri, sementara Ayula terhimpit antara cinta dan sumpah jabatannya. Dunia di sekeliling mereka—adat, iman, negara, dan ideologi—semuanya, dengan caranya masing-masing, percaya sedang membela kebenaran.

Ketika setiap celah akhirnya tertutup, keduanya memilih berpisah di Pantai Gedo, bukan karena cinta mereka padam, melainkan karena tidak ada tempat bagi cinta itu di dunia yang memisahkan mereka. Melanus kembali ke pergulatannya di Papua, sementara Ayula menjalani hidup di kota-kota yang jauh. Bertahun-tahun berlalu dalam kebisuan, hingga kematian Melanus dan sebuah ziarah yang menuntaskan perpisahan yang tak pernah selesai.

Lebih dari sekadar kisah cinta, novel ini adalah renungan tentang manusia di balik setiap bendera, tentang benturan antara hal-hal baik yang tidak bisa berdamai, dan tentang wajah kemanusiaan di balik berita-berita utama tentang Papua—manusia yang mencintai, yang takut, yang bermimpi, dan yang patah. Ditulis dengan gaya sastrawi sekaligus reflektif, novel ini mengangkat tema cinta, identitas, kesetiaan, dan kemanusiaan dalam konteks sosial-politik Tanah Papua.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Nabire – Cinta diantara Dua Bendera”

Your email address will not be published. Required fields are marked *